QUANTUM LEARNING
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Pendidikan dan Latihan
Dosen Pengampu: Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag
Disusun oleh:
Min Khatul Maula (123311026)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
2015
I.
PENDAHALUAN
Keberhasilan dalam proses
pembelajaran tidak terlepas dari cara dan model pembelajaran yang guru terapkan
kepada peserta didik. Terkadang guru
kurang memperhatikan peserta didiknya, apakah siswanya bisa menerima dan
memahami materi yang disampaikannya sehingga tidak mempehatikan model
pembelajaran apa yang diterapkan guru di kelas. Dengan Kita memahami model pembelajaran
kuantum ini kita mampu membawa suasana kelas menjadi enak gagi siswa.
Proses belajar mestinya berjalan
menyenangkan untuk anak-anak didik. Ini adalah hal yang sesungguhnya sangat
mendasar dari sebuah proses belajar. Quantum Learning merupakan strategi
belajar yang bisa digunakan oleh siapa saja selain sisiwa dan guru karena
memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara mantap dan berkesan.
Caranya, seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya
berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan dengan cepat
mendalami sesuatu. Banyak orang yang telah merasakan hasilnya setelah mengkaji
sesuatu dengan cara Quantum Learning. Segalanya dapat dengan mudah, cepat, dan
mantap dikaji dan didalami dengan suasana yang menyenangkan.
Dalam makalah ini akan dijelaskan
lebih lanjut tentang Quantum Learning untuk menjadikan suasana belajar menjadi
nyaman.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa
yang dimaksud dengan Quantum Learning?
B.
Apa
manfaat Quantum Learning?
C.
Apa
prinsip-prinsip pembelajaran Kuantum?
D.
Bagaimana
langkah-langkah penerapan Quantum Learning?
E.
Apa
kelebihan dan kekurangan Quantum Learning?
F.
Bagaimana
Implementasi pembelajaran kuantum?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengetian Quantum Learning
Dalam UU no.2 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 ayat 20,
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar
seseorang membentuk diri secara posirtif dalam kondisi tertentu.[1]
Sedangkan kuantum menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah banyaknya jumlah
sesuatu.
Quantum learning adalah seperangkat metode belajar terbukti efektif
di sekolah dan bisnis bekerja untuk semua tipe orang dan segala usia.
Quantum learning mengerahkan segenap usaha untuk menemukan cara
belajar paling efektif dan cepat. Dengan quantum learning kita belajar cara
belajar. Kita mendapatkan cara membaca cepat, menghafal cepat dan menjadi
kreatif sesuai dengan gaya kita masing-masing.[2]
Quantum learning berakar dari upaya Dr. George Lozanov, seorang
pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya
sebagai “suggestology”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti
positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan
sugesti positif adalah mendudukan murid secara nyaman, memasang musik latar di
dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk
memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru
yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif.
Istilah lain hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology
adalah pemercepatan belajar. Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai
memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan
upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur
yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan : hiburan, permainan,
warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Namun
semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang
efektif.
Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program
neurolinguistik (NLP) yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur
informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat
digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Para
pendidik pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif
untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif. Adapun dalam quantum learning
memiliki tujuan yaitu: tumbuhnya emosi positif, kekuatan otak dan mencapai
keberhasilan pembelajaran.[3]
B.
Manfaat Quantum Learning
Manfaat
Quantum Learning:
1.
Sikap
positif
2.
Motivasi
Motivasi
dapat diartikan sebagai dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk
melakukan sesuatu tindakan. Motivasi belajar yang perlu dimiliki oleh siswa
adalah motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri individu. Siswa yang
memiliki motivasi biasanya memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai prestasi
belajar yang diharapkan. Dalam menerapkan Quantum Learning seperti menggunakan
metode AMBAK maka akan termotivasi dalam belajar.[4]
3.
Keterampilan
belajar
4.
Kepercayaan
diri
5.
Sukses[5]
C. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kuantum
Asas utama pembelajaran Kuantum adalah Bawalah Dunia Mereka ke Dunia
Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Konsep “Bawalah Dunia
Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” mengandung
konsekuensi bahwa langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam
pelaksanaan pembelajaran adalah membangun jembatan autentik memasuki kehidupan
siswa, untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka.
Caranya yaitu dengan mengaitkan apa yang
diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan
rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademik siswa. Setelah kaitan
terbentuk, guru dapat menerapkan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”.
Dapat disimpulkan pembelajaran Kuantum
menggunakan prinsip-prinsip yang terdiri dari lima macam, yaitu: (1)
Segalanya Berbicara, (2) Segalanya Bertujuan, (3) Sadarilah bahwa pengalaman
mendahului penamaan, (4) Akui Setiap Usaha yang dilakukan dalam pembelajaran,
dan (5) Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan.
1.
Segalanya
Berbicara.
Prinsip Segalanya Berbicara
mengandung pengertian bahwa segala sesuatu di ruang kelas “berbicara” mengirim
pesan tentang belajar. Dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, penataan
ruang, mulai kertas yang dibagikan hingga rancangan pembelajaran. Setiap detail
mengabarkan sesuatu tentang diri dan sikap guru terhadap hal mengajar dan
belajar. Sebab itu dalam proses pembelajaran, guru wajib menggubah kelas
menjadi “komunitas belajar” yang setiap detailnya telah diubah secara saksama untuk
mendukung belajar optimal dari cara mengatur bangku, menentukan kebijakan
kelas, hingga cara merancang pengajaran.
2.
Segalanya
Bertujuan.
Segalanya Bertujuan berarti bahwa
semua upaya yang dilakukan guru dalam mengubah kelas mempunyai tujuan, yaitu agar
siswa dapat belajar secara optimal untuk mencapai prestasi yang tertinggi.
3.
Sadarilah
bahwa pengalaman mendahului penamaan
Proses belajar paling baik terjadi
ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama
untuk hal-hal yang mereka pelajari. Pengalaman menciptakan ikatan emosional dan
peluang untuk penamaan. Pengalaman juga menciptakan pertanyaan mental, seperti:
Apa?, Mengapa?, Bagaimana?. Jelasnya, pengalaman membangun
keingintahuan siswa, menciptakan petanyaan dalam benak mereka, membuat mereka
penasaran. Jadi, sebelum menyajikan materi pelajaran, guru perlu terlebih
dahulu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami atau mempraktikkan
sendiri.
4.
Akui Setiap
Usaha yang dilakukan dalam pembelajaran
Pembelajaran atau belajar mengandung
resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Ketika siswa telah
mengambil langkah ini, mereka patut diberi pengakuan atas kecakapan dan
kepercayaan diri mereka. Prinsip Akui Setiap Usaha mengandung konsekuensi bahwa
dalam pembelajaran, guru harus mengakui setiap usaha siswa, baik usaha yang
sudah tepat atau yang belum. Perlu dipahami bahwa dalam pembelajaran Quantum
tidak dikenal istilah “gagal”. Yang ada hanyalah hasil dan umpan
balik. Setiap hasil adalah prestasi, dan masing-masing akan menjadi umpan
balik demi pencapaian hasil yang tepat sebagaimana dimaksudkan.
5.
Jika Layak
Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan.
Perayaan merupakan sarapan bagi
pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan
meningkatkan emosi positif dengan belajar. Mengadakan perayaan bagi siswa akan
mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar
mereka sendiri. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka
lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.
Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa
perlu sering-sering merayakan kesuksesan belajar, dan menghubungkan belajar
dengan perayaan. Bentuk perayaan, misalnya: tepuk tangan, tiga kali hore,
jentikan jari, kejutan, dan lain-lain.[6]
D.
Langkah-langkah Penerapan Quantum Learning
Langkah-langkah
yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui Quantum Learning dengan cara:
1.
Kekuatan AMBAK
Dalam banyak
situasi, menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat dalam apa yang
sedang anda pelajari dengan menghubungkannya dengan dunia nyata.[7]
Dalam bahasa
Quantum Learning, merumuskan tujuan disebut sebagai proses mencari AMBAK. AMBAK adalah akronim
dari “Apa Manfaatnya BAgiKu?”
A : Apa yang
dipelajari
Guru hanya menetapkan apa saja yang akan dipelajari,
anak didiklah yang menetukan tema sesuai minat masing-masing. Sebagai contoh
pada pelajaran menggambar, guru hanya menentukan pelajaran menggambar dan para
anak didiklah yang menentukan tema gambar yang akan di buatnya.
M : Manfaat
Guru memberikan penjelasan tentang apa manfaat yang
diperoleh dari setiap pelajaran.
BAK : BAgiKu
Bagiku artinya metode yang terkait dengan penjelasan
guru kepada siswa tentang apa manfaat yang diperoleh siswa di masa yang akan
datang setelah mempelajari bahan yang akan di ajarkan guru.
Metode AMBAK adalah cara mengawali kegiatan pembelajaran dengan terlebih
dahulu memberikan penjelasan tentang apa yang akan dipelajari dan memberikan
pemahaman dan penyadaran kepada siswa tentang manfaat besar yang akan didapat
siswa.
Menurut Quantum Learning, AMBAK yang sangat jelas dan
spesifik akan dapat memotivasi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan secara
hebat dan belajar bagaimana membuat diri
anda termotivasi untuk mencapai tujuan anda. AMBAK yang akan mengetahui
langkah-langkah untuk menumbuhkan minat dalam segala sesuatu. Dengan AMBAK akan
meningkatkan kualitas hidup. AMBAK yang dapat memotivasi diri dapat
dilakukan lewat kegiatan bertanya. Dengan AMBAK juga akan mendorong pengajar mengaitkan
materi pelajaran yang diajarkan dengan keseharian anak didik.
Oleh sebab itu,
AMBAK sangat dibutuhkan dalam setiap pembelajaran. Karena tanpa informasi yang
didapatkan dalam proses belajar mengajar akan terbuang sia-sia. Dan dengan menciptakan AMBAK
pada diri masing-masing diharapkan dapat meningkatkan rasa ingin tahu seseorang
untuk mempelajari suatu bidang dan menambah keinginan untuk mempelajari bidang lainnya.[8]
2.
Memupuk sikap juara
Memupuk sikap
juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa, seorang guru
hendaknya jangan segan-segan untuk memberikan pujian atau hadiah pada siswa
yang telah berhasil dalam belajarnya, tetapi jangan pula mencemooh siswa yang
belum mampu menguasai materi. Dengan memupuk sikap juara ini siswa akan merasa
lebih dihargai.
3.
Penggunaan
tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar
Dalam pembelajaran diperlukan penataan lingkungan yang dapat
membuat siswa merasa aman dan nyaman, dengan perasaan aman dan nyaman ini akan
menumbuhlkan konsentrasi belajar siswa yang baik. Dengan penataan lingkungan
belajar yang tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa. Jadi Sebelum suatu
pelajaran dimulai, ubahlah ruang kelas menjadi suatu tempat di mana siswa akan
merasa nyaman, terdorong, dan mendapat dukungan.
4.
Bebaskan gaya belajar
Dalam quantum
learning guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya
dan janganlah terpaku pada satu gaya belajar saja.
Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja
dalam pekerjaan, disekolah, dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Dengan
memahami gaya belajar dapat memudahkan siswa dalam menyerap dan mengolah
informasi.
Gaya belajar dapat juga dimaknai sebagai
kebiasaan yang diperlihatkan oleh individu dalam memproses informasi dan
pengetahuan serta mempelajari suatu keterampilan.
Ketahuilah gaya belajar diri sendiri. Akrab dengan gaya
belajar sendiri akan membantu untuk mempermudah dan mempercepat pembelajaran.
Dan juga, dapat mempermudah mengetahui cara belajar orang lain. Gaya belajar dapat juga diklasifikasikan ke dalam kecenderungan dan
kecepatan yang dimiliki oleh seseorang dalam memproses jenis informasi.
Klasifikasi gaya belajar individu yang didasarkan pada kemampuan dalam memahami
jenis informasi tertentu yaitu gaya belajar: (1) visual, (2) auditorial, (3)
kinestik.[9]
Berikut
ini macam-macam gaya belajar siswa:
1)
Visual
Gaya belajar visual (visual learners) menitikberatkan pada
ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan
terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan
penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.
2)
Auditory
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk
bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai
alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
3)
Kinestetik
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang
bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa
mengingatnya.[10]
5.
Membiasakan untuk mencatat
Belajar akan
benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak hanya bisa
menerima, melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang didapatkan menggunakan
bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa itu sendiri.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan simbol-simbol atau gambar yang
mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri, simbol-simbol tersebut dapat berupa
tulisan.
Mencatat yang
efektif adalah salah satu kemampuan terpenting yang pernah dipelajari. Alasan
pertama untuk mencatat adalah bahwa mencatat meningkatkan daya ingat, membantu
mengingat apa yang tersimpan dalam memori kita.[11]
6.
Membiasakan membaca
Bagi banyak orang
membaca adalah suatu tugas yang berat. Tapi hakikatnya membaca bukan tugas yang
berat harus disingkirkan sejauh mungkin, tetapi sebagai keterampilan yang dapat
dinikmati dan memuaskan. Banyak manfaat dari membaca yaitu dapat mengembangkan
kecepatan membaca, akan menambah perbendaharaan kata, pemahaman, menambah
wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa
untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain.[12]
7.
Jadikan yang lebih kreatif
Menurut Conny
Semiawan kreativitas adalah suatu kemampuan untuk membentuk gagasan baru dan
penerapan dalam pemecahan masalah. Sedangkan Muhammad Amin menyatakan bahwa
kreativitas diartikan sebagai pola berpikir atau ide yang timbul secara spontan
dan imajinatif.
Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin
tahu, suka mencoba dan senang bermain. Dengan adanya sikap kreatif yang baik
siswa akan mampu menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.[13]
E. Kelebihan
dan kekurangan Quantum Learning
1. Kelebihan
Quantum Learning
a. Pembelajaran Quantum menekankan
perkembangan akademis dan keterampilan.
Dari sebuah pengalaman yang diselenggarakan oleh Learning
Forum di Supercamp yang mempraktekkan pembelajaran Quantum ternyata
murid-muridnya mendapat nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi dan
merasa lebih bangga pada diri mereka sendiri. Dalam pendekatan pembelajaran
kuantum, pendidik mampu menyatu dan membaur pada dunia peserta didik sehingga
pendidik bisa lebih memahami peserta didik dan ini menjadi modal utama yang
luar biasa untuk mewujudkan metode yang lebih efektif yaitu metode
belajar-mengajar yang lebih menyenangkan.
b. Model pembelajarannyapun lebih
santai dan menyenangkan karena ketika belajar sambil diiringi musik.
Hal ini untuk mendukung proses belajar karena musik akan
bisa meningkatkan kinerja otak sehingga diasumsikan bahwa belajar dengan
diiringi musik akan mewujudkan suasana yang lebih menenangkan dan materi yang
disampaikan lebih mudah diterima.
c. Penyajian materi pelajarannya yang secara alami.
Merupakan proses belajar yang paling baik yaitu terjadi
ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa
yang mereka pelajari sehingga siswa berada pada zona nyaman untuk kemudian
sedikit demi sedikit keluar dari zona nyaman untuk melakukan penjelajahan yang
sesungguhnya yaitu kegiatan belajar itu sendiri.Pada pembelajaran Quantum,
objek yang menjadi tujuan utama adalah siswa. Maka dari itu guru mengupayakan
berbagai interaksi dan menyingkirkan hambatan belajar dengan cara yang tepat
agar siswa dapat belajar secara mudah dan alami. Semua itu adalah bertujuan
untuk melejitkan prestasi siswa.
d. Quantum learning sebagai salah satu
metode belajar dapat memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya
dengan lingkungan.
Maksudnya,
yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar
yang menyenangkan dapat menimbulkan motivasi pada diri seseorang sehingga
secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar metode Quantum Learning
dengan teknik peta pikiran (mind mapping) memiliki manfaat yang sangat baik
untuk meningkatkan potensi akademis (prestasi belajar) maupun potensi kreatif
yang terdapat dalam diri siswa.
2. Kekurangan Quantum Learning
a. Memerlukan dan menuntut keahlian dan
keterampilan guru lebih khusus.
b. Memerlukan proses perancangan dan
persiapan pembelajaran yang cukup matang dan terencana dengan cara yang lebih
baik.
c. Adanya keterbatasan sumber belajar,
alat belajar, dan menuntut situasi dan kondisi serta waktu yang lebih banyak.[14]
F.
Implementasi
pembelajaran kuantum
Implementasi pembelajaran kuantum dalam materi IPS
Kelas 4
SK :
1.Memahami sejarah, kenampakan alam, dan keragaman suku bangsa di lingkungan
Kabupaten Pati dan Propinsi Jawa Tengah.
KD : 1.3
Menunjukkan jenis persebaran sumber daya alam serta manfaatnya untuk kegiatan
ekonomi dilingkungan setempat
Langkah-Langkah pembelajaran yang dilakukan sebagai
wujud implementasi quantum learning.
|
Quanteum
Learning
|
Realitas (implementasi)
|
|
AMBAK (apa
manfaat bagiku)
|
Yaitu dengan cara memberi motivasi belajar sebelum
pembelajaran dimulai. Siswa diajak untuk menghayati dan merenungkan manfaat
dan kegunaan belajar dari pelajaran yang sudah dipelajari maupun yang akan
dipelajarinya.
|
|
Penataan lingkungan belajar
|
Yaitu dengan cara memutar musik latar saat
pembelajaran berlangsung guna memberikan rasa santai siswa ketika mengikuti
pelajaran. Musik yang digunakan adalah jenis musik klasik yaitu musik dari
Mozart. Memasang gambar-gambar sesuai dengan materi yang akan dipelajari.
Membersihkan dan merapihkan tempat belajar yaitu ruang kelas
|
|
Bebaskan gaya belajar
|
Yang dimaksud membebaskan gaya belajar disini yaitu
pembelajaran yang disajikan guru tidak hanya terpaku pada satu gaya belajar
tetapi menggunakan beberapa gaya belajar disesuaikan dengan tingkat modalitas
siswa yaitu modalitas visual, auditorial, dan kinestetik (VAK). Dalam
penelitian ini modalits gaya belajar yang dilaksanakan hanya modalitas VA (
Visual dan Auditorial) yang dituangkan dalam suatu media pembelajaran
interaktif
|
|
Membiasakan membaca
|
Tahap ini
dapat dilakukan di kelas maupun di rumah, namun kali ini tahap ini hanya dilaksanakan dalam
pemberian tugas rumah untuk membaca dan mempelajari materi yang akan
dipelajari selanjutnya
|
|
Melatih kekuatan memori
|
melatih kekuatan memori ini dilaksanakan secara
sepintas yaitu dengan mengerjakan soal-soal dari media pembelajaran yang
dilaksanakan secara serempak oleh siswa tanpa melihat buku.
|
|
Membiasakan mencatat
|
Yaitu dengan cara menyuruh siswa agar membuat ringkasan
materi yaitu dengan membuat catatan Tulis Susun (TS). Pemilihan jenis catatan
TS ini karena disesuaikan dengan keadaan siswa agar siswa tidak terpaku pada
membuat catatan ketika guru menyampaikan materi. Jadi pemilihan
jenis catatan TS ini agar terkesan tidak mewajibkan
mencatat sehingga siswa hanya mencatat yang menurutnya penting.
|
|
Jadikan siswa lebih kreatif
|
Tahapan ini tidak dilaksanakan karena menyesuaikan
dengan waktu dan materi pelajaran dalam penelitian ini yang kurana mendukung
dalam menumbuhkan kekreatifan siswa
|
|
Memupuk sikap juara
|
Yaitu dengan cara memberikan penghargaan baik berupa
tepuk tangan atau pujian maupun berupa hadiah kepada siswa yang mampu
menjawab pertanyaan dari guru dan siswa yang memperoleh nilai tertinggi dalam
mengerjakan soal latihan yang terdapat dalam media pembelajaran.
|
IV.
ANALISIS
Pada
hakekatnya, mengajar itu adalah suatu proses dimana pengajar dan murid
menciptakan lingkungan yang baik, agar terjadi kegiatan belajar yang berguna,.
Untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu diperlukan model-model
mengajar. Model mengajar adalah suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang
menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran
dan pembelajaran, perlengkapan belajar, pelajaran, bulu-buku kerja.
Ada banyak
model pembelajaran yang dapat memudahkan guru melaksanakan tugas utama sebagai agen pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang
terkenal adalah model pembelajaran kuantum.
Pembelajaran kuantum sebagai salah
satu model, strategi, dan pendekatan pembelajaran khususnya menyangkut
keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan, dan mengelola sistem
pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif,
menggairahkan, dan memiliki keterampilan hidup.
Berdasarkan paparan di atas dapat
diketahui bahwa pembelajaran kuantum merupakan sebuah metodologi pembelajaran
yang umum yang dapat diterapkan baik di dalam lingkungan bisnis, lingkungan
rumah, lingkungan perusahanan, maupun di dalam lingkungan sekolah (pengajaran).
Khusus penerapannya di lingkungan kelas menuntut perubahan pola berpikir para
pelaksana pengajaran, budaya pengajaran dan pendidikan, dan struktur organisasi
sekolah dan struktur pembelajaran. Jika perubahan-perubahan tersebut dapat
dilakukan niscaya pembelajaran kuantum dapat dilaksanakan dengan hasil yang
optimal.
Secara
sederhana, pembelajaran kuantum dapat diartikan sebagai pembelajaran yang
mengkonsentrasikan berbagai interaksi menjadi cahaya yang melejitkan prestasi
siswa, dengan menyingkirkan hambatan belajar melalui penggunaan cara dan alat
yang tepat, sehingga siswa dapat belajar secara mudah dan alami.
Quantum Learning merupakan strategi
belajar yang bisa digunakan oleh siapa saja selain sisiwa dan guru karena memberikan
gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara mantap dan berkesan. Caranya,
seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya
berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan dengan cepat
mendalami sesuatu. Banyak orang yang telah merasakan hasilnya setelah mengkaji
sesuatu dengan cara Quantum Learning. Segalanya dapat dengan mudah, cepat, dan
mantap dikaji dan didalami dengan suasana yang menyenangkan.
V.
KESIMPULAN
Quantum learning adalah seperangkat metode belajar terbukti efektif
di sekolah dan bisnis bekerja untuk semua tipe orang dan segala usia.
Quantum learning mengerahkan segenap usaha untuk menemukan cara
belajar paling efektif dan cepat. Dengan quantum learning kita belajar cara
belajar. Kita mendapatkan cara membaca cepat, menghafal cepat dan menjadi
kreatif sesuai dengan gaya kita masing-masing. Tujuan quantum learning: tumbuhnya
emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan. Adapun manfaat Quantum Learning:
menciptakan sikap positif, adanya motivasi, keterampilan belajar, kepercayaan
diri, Sukses.
Dalam pembelajaran Quantum menggunakan prinsip-prinsip yang
terdiri dari lima macam, yaitu: (1) Segalanya Berbicara, (2) Segalanya
Bertujuan, (3) Pengalaman Sebelum Pemberian Nama, (4) Akui Setiap Usaha, dan (5)
Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Adapun Langkah-langkah
yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui Quantum Learning dengan cara:
1. Kekuatan AMBAK
2. Memupuk sikap juara
3. Penggunaan tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk
belajar
4. Bebaskan gaya belajar
5. Membiasakan untuk mencatat
6. Membiasakan membaca
7. Jadikan yang lebih kreatif
VI.
PENUTUP
Demikian makalah yang dapat saya
sajikan. saya menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
sangat saya harapkan. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.
DAFTAR
PUSTAKA
A. Pribadi,
Benny, Model Assure untuk mendesain Pembelajaran Sukses, Jakarta: Dian
Rakyat, 2011
B. SuryoSubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah,
Jakarta: Rineka Cipta, 2009
Buzan, Tony, Mind Map: Untuk Meningkatkan Kreativitas, 2004 (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
DePorter, Bobbi
dan Mike Hernacki, 2007. Quantum Learning. Bandung: Kaifa Mizan Pustaka.
Hosnan, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual
dalam Pembelajaran abad 21, Bogor: Ghalia Indonesia, 2014, hlm. 359.
Komsiyah, Indah, Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta:
TERAS, 2012, hlm. 4
Nggermanto. 2003. Quantum Quotient : Kecerdasan Quantum, Bandung : Nuansa
[1]
Indah Komsiyah, Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: TERAS, 2012, hlm.
4
[3]
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Bandung: Kaifa Mizan
Pustaka, 2007, hlm.14-15.
[4]
Benny, A. Pribadi, Model Assure untuk mendesain Pembelajaran Sukses,
Jakarta: Dian Rakyat, 2011, Hlm. 20
[5]
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Bandung: Kaifa Mizan
Pustaka, 2007,
[6]
Hosnan, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran abad 21,
Bogor: Ghalia Indonesia, 2014, hlm. 359.
[7]
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Bandung: Kaifa Mizan
Pustaka, 2007, Hlm. 48
[8]
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Bandung: Kaifa Mizan
Pustaka, 2007, hlm. 45-46
[9]
Benny, A. Pribadi, Model Assure untuk mendesain Pembelajaran Sukses,
Jakarta: Dian Rakyat, 2011, hlm. 45-47
[10]Bobbi
DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Bandung: Kaifa Mizan
Pustaka, 2007, hlm. 117-120
[11]
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning,.... hlm. 146
[12]
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning,.... Hlm. 246
[13]
B. SuryoSubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka
Cipta, 2009, Hlm.220
[14]
Tony Buzan, Mind Map: Untuk Meningkatkan Kreativitas, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm.35-37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar